Senin, 08 Agustus 2011

Renungan di Kebun Karet

Waktu itu Bulan Juni 2011, hari dan tanggalnya saya lupa. Saya sedang ada tugas pengukuran di sebuah perkebunan di Kabupaten Madiun. Seperti biasanya, pergi pagi pulang sore, jalan kaki, naik gunung, turun gunung, nyeberang sungai.. dan yang nggak seperti biasanya saya sempat disengat lebah di kepala dan pinggang. Ternyata sakit itu nggak enak....
Suatu sore seusai pengukuran, saya kembali ke base camp bersama rekan tim jalan kaki. Lumayan jauh juga, dengan kondisi jalan yang masih makadam. Masih mending, di titik-titik lain mesti merayap sambil berpegangan pada apa saja yang bisa dipegang. Tapi, karena jaraknya cukup jauh ya meskipun jalannya enak tetep capek juga.
Di dalam kebun itu ada monumen rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman. Saya membayangkan beliau ketika terkena serangan tuberkulosis masih bergerilya bersama para pengikutnya. Mungkin jalanan pada waktu itu tak sebagus sekarang.
Saya bertanya sama mas Hadi, temanku,”Mas, jaman Pak Dirman dulu orang-orang jalannya cepet ya?” “Ya mesti saja lah, wong dikejar-kejar Belanda...”, jawab mas Hadi. Aku bertanya lagi, “Kalau kita hidup di jaman itu, apakah kita akan bergerilya bersama Pak Dirman atau malah jadi pengecut yang sembunyi di bawah kolong..?” Jawaban mas Hadi, “Jamannya sudah berbeda mas...”
“Berarti tugas kita mnegisi kemerdekaan ini. Jangan sampai kemerdekaan yang ditebus dengan tetas darah para pejuang itu kita sia-siakan. Terus, bagaimana dengan pejabat-pejabat kita yang pada korupsi. Seberapa nilai mereka bila dibandingkan dengan pejuang-pejuang kita waktu itu. Nggak ada apa-apanya. Meskipun kendaraan mereka harganya milyaran, tinggallnya di gedung bertingkat-tingkat, tapi mereka itu cuman sampah. Baunya busuk, lebih busuh daripada telur busuk. Orang kaya kok masih nyuri aung rakyat. Buat saya, lebih terhormat tukang becak yang jujur atau pemulung yang mengais-ngais di tempat sampah tapi tidak suka dengan ngambil barang yang bukan haknya,” saya ngomong sambil emosi. Maklum, tiap kali nonton di tv, beritanya cuman pejabat-pejabat yang korupsi. Kapan mereka mau mikirkan rakyat...?
“Aku pernah ketemu sama pejuang veteran. Sebagian temannya yang sekarang masih hidup ada yang kehilangan kedua tangannya, ada yang pincang, dan lain-lain..” Tambah mas Hadi.
Mendengar itu, darahku semakin mendidih rasanya nggak karu-karuan. Tapi mau apa lagi. Kita nggak bisa apa apa. Jadi rakyat kecil bisanya cuman berbuat sekecil apapun yang bisa bermanfaat untuk negeri tercinta ini.
Makanya, dari cerita itu saya ngajak siapa saja yang sadar untuk menghargai perjuangan para leluhur kita. Berbuat apa saja yang bisa bermanfaat untuk Indonesia. Jangan nunggu uluran tangan dari pemerintah, entar keburu kiamat kita belum ngapa-ngapain. Orang Indonesia itu pinter-pinter kok. Cuman pemerintahnya saja yang g*****. Sudah banyak contohnya. Ada guru yang mau ngajar murid-muridnya di daerah pedalaman tanpa dibayar sepeser pun, ada yang bikin pembangki listrik dari kincir air di desa-desa yang belum kemasukan listrik PLN dan lain-lain. Mudah-mudahan amal mereka mendapatkan balasan yang lebih baik. Amin...
<surabaya juni=""></surabaya>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar