Senin, 08 Agustus 2011

Pengecut vs Kesatria

PENGECUT menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penakut, munafik. Menurut saya, pengecut adalah orang yang tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah ia lakukan.
Akhir-akhir ini banyak bermunculan orang-orang yang pengecut. Meskipun dari dulu juga sudah banyak, tapi yang mengherankan kali ini dilakukan oleh orang-orang yang kuat, gagah perkasa, punya kekuasaan, punya kemampuan, punya ini... punya itu...
Betapa tidak. Lihat saja ada pejabat ini, anggota dewan, mantan petinggi p****, istrinya si anu, dan lain-lain yang berdalih berobat ke luar negeri untuk menghindari tuntutan hukum. Bahkan menurut pantauan ICW, sudah ada 45 koruptor yang kabur ke luar negeri selama 10 tahun terakhir (http://nasional.kompas.com/read/2011/06/11/09414556/45.Koruptor.Kabur.ke.Luar.Negeri)
Mereka semua -kalau memang benar seperti yang sering diberitakan di mass media- adalah pengecut-pengecut yang sangat memalukan. Lha wong dulu mereka secara sadar dan senang hati memakan harta yang bukan haknya kok sekarang malah kabur terbirit-birit. Dari sekian banyak koruptor, badannya seger-seger lho. Bukannya mengaku bersalah dan siap menanggung segala konsekuensinya itu lebih terlihat kesatria...? Tapi hukum tetap harus ditegakkan juga dong. Artinya bukan berarti orang yang sudah mengaku salah terus terbebas dari hukuman.
KESATRIA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang (prajurit, perwira) yg gagah berani; pemberani; 2 kasta kedua dl masyarakat Hindu; kasta bangsawan atau kasta prajurit.

Renungan neng Kebun Karet (Suroboyoan)

Wektu iku Wulan Juni 2011, dina lan tanggale aku lali. Aku lagi ana tugas ngukur ing perkebunan ing Kabupaten Madiun. Koyo biasane, budal esuk mulih sore, mlaku sikil, munggah gunung, medun gunung, nyeberang kali... lan sing gak koyo biasane aku tau dientup tawon neng endas karo boyokku. Jebul wong loro iku gak enak...
Pas wayah sore mari ngukur, aku mulih ing base camp karo konco tim mlaku sikil. Lumayan adoh, embonge ugo isih makadam. Isih mending, neng titik liyane kudu mbrangkang karo gondelan opo wae sing iso dicekel. Nanging, mergo adoh yo masio embonge enak tetep ae bongko.
Neng njero kebun iku ono monumen rute gerilyane Pak Dirman. Aku mbayangke wektu iku Pak Dirman keno serangan tuberkulosis nanging isih gerilya karo bareng pengikute. Mungkin embonge gak sepiro apik koyo sakiki.
Aku rasanan karo mas Hadi koncoku, “Mas, riyen jamane Pak Dirman tiyang-tiyang mlampahe ndak nggih cepet..?” “Mesthi ae mas, wong karo dioyak Londo..”, jawab mas Hadi. Aku banjur takon, “Nek misale awak dhewe urip neng jaman iku, kiro-kiro bakal bergerilya karo Pak Dirman opo malah dadi pengecut sing ndelik neng ngisor longan..?” Jawabe mas Hadi, “Yo wis seje jamane mas....”
“Berarti tugase dewe ngisi kemerdekaan iki. Ojo nganti kemerdekaan sing ditebus soko tetes getih poro pejuang iku disia-siakke. Terus yo opo pejabat-pejabate dewe sing podo korupsi. Opo bobote dibandingke karo pejuang-pejuang wektu iku... Gak ono opo-opone. Masio tumpakane sedan sing regone milyatan, omahe gedong magrong-magrong susun pitu likur, tapi deweke iku mung sampah. Ambune luwih gak enak ketimbang endok pitik sing bosok. Wong sugih kok podho ngenthit duwit rakyat. Kanggo aku, luwih terhormat tukang becak sing jujur utowo pemulung sing ngorek-ngorek neng tempat sampah nanging gak seneng karo barange uwong”, aku ngomong karo rodo emosi. Masalahe saben nonton tivi ben bengi beritane mung pejabat korupsi kabeh. Kapan le mikirke rakyate.....?
“Aku wis tau ketemu karo pejuang veteran. Sebagian koncone sing sak-iki isih urip ono sing kelangan tangan karo-karone, pincang, lan werno-werno maneh...” Tambah mas Hadi.
Krungu iku getihku tambah umop, rasane gak karu-karuan. Nanging yo opo maneh. Awak dewe gak iso lapo-lapo. Dadi rakyat cilik isone yo mung gawe opo ae sing iso manfaat kanggo negeri kang kinasih iki.
Mulakno, soko cerito iku aku ngajak sopo ae sing sadar supoyo podo ngregani perjuangane poro leluhur. Gawe opo ae sing iso manfaat kanggo Indonesia iki. Gak usah podo ngendelke pemerintah, engko ndak kesusu kiamat awak dewe durung lapo-lapo. Wong Indonesia iku pinter-pinter.  Mung pemerintahe ae sing g*****. Wis akeh cotone kok. Ono guru sing gelem ngajar murid-murid neng pedalaman tanpo dibayar opo-opo, ono sing mbangun pembangkit listrik soko kincir air neng deso-deso sing durung kelebon listrik PLN, lan sak piturute. Mugo-mugo karo sing kuwoso ditulis dadi amal kang apik. Amin...
<surabaya juni=""></surabaya>

Renungan di Kebun Karet

Waktu itu Bulan Juni 2011, hari dan tanggalnya saya lupa. Saya sedang ada tugas pengukuran di sebuah perkebunan di Kabupaten Madiun. Seperti biasanya, pergi pagi pulang sore, jalan kaki, naik gunung, turun gunung, nyeberang sungai.. dan yang nggak seperti biasanya saya sempat disengat lebah di kepala dan pinggang. Ternyata sakit itu nggak enak....
Suatu sore seusai pengukuran, saya kembali ke base camp bersama rekan tim jalan kaki. Lumayan jauh juga, dengan kondisi jalan yang masih makadam. Masih mending, di titik-titik lain mesti merayap sambil berpegangan pada apa saja yang bisa dipegang. Tapi, karena jaraknya cukup jauh ya meskipun jalannya enak tetep capek juga.
Di dalam kebun itu ada monumen rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman. Saya membayangkan beliau ketika terkena serangan tuberkulosis masih bergerilya bersama para pengikutnya. Mungkin jalanan pada waktu itu tak sebagus sekarang.
Saya bertanya sama mas Hadi, temanku,”Mas, jaman Pak Dirman dulu orang-orang jalannya cepet ya?” “Ya mesti saja lah, wong dikejar-kejar Belanda...”, jawab mas Hadi. Aku bertanya lagi, “Kalau kita hidup di jaman itu, apakah kita akan bergerilya bersama Pak Dirman atau malah jadi pengecut yang sembunyi di bawah kolong..?” Jawaban mas Hadi, “Jamannya sudah berbeda mas...”
“Berarti tugas kita mnegisi kemerdekaan ini. Jangan sampai kemerdekaan yang ditebus dengan tetas darah para pejuang itu kita sia-siakan. Terus, bagaimana dengan pejabat-pejabat kita yang pada korupsi. Seberapa nilai mereka bila dibandingkan dengan pejuang-pejuang kita waktu itu. Nggak ada apa-apanya. Meskipun kendaraan mereka harganya milyaran, tinggallnya di gedung bertingkat-tingkat, tapi mereka itu cuman sampah. Baunya busuk, lebih busuh daripada telur busuk. Orang kaya kok masih nyuri aung rakyat. Buat saya, lebih terhormat tukang becak yang jujur atau pemulung yang mengais-ngais di tempat sampah tapi tidak suka dengan ngambil barang yang bukan haknya,” saya ngomong sambil emosi. Maklum, tiap kali nonton di tv, beritanya cuman pejabat-pejabat yang korupsi. Kapan mereka mau mikirkan rakyat...?
“Aku pernah ketemu sama pejuang veteran. Sebagian temannya yang sekarang masih hidup ada yang kehilangan kedua tangannya, ada yang pincang, dan lain-lain..” Tambah mas Hadi.
Mendengar itu, darahku semakin mendidih rasanya nggak karu-karuan. Tapi mau apa lagi. Kita nggak bisa apa apa. Jadi rakyat kecil bisanya cuman berbuat sekecil apapun yang bisa bermanfaat untuk negeri tercinta ini.
Makanya, dari cerita itu saya ngajak siapa saja yang sadar untuk menghargai perjuangan para leluhur kita. Berbuat apa saja yang bisa bermanfaat untuk Indonesia. Jangan nunggu uluran tangan dari pemerintah, entar keburu kiamat kita belum ngapa-ngapain. Orang Indonesia itu pinter-pinter kok. Cuman pemerintahnya saja yang g*****. Sudah banyak contohnya. Ada guru yang mau ngajar murid-muridnya di daerah pedalaman tanpa dibayar sepeser pun, ada yang bikin pembangki listrik dari kincir air di desa-desa yang belum kemasukan listrik PLN dan lain-lain. Mudah-mudahan amal mereka mendapatkan balasan yang lebih baik. Amin...
<surabaya juni=""></surabaya>

GAGAL BERSEDEKAH


Malam itu, 27 September 2010 kira-kira pukul 21.15 WIB saya singgah di sebuah warung makan di Manyar Surabaya. Maklum sehabis kuliah perut terasa melilit karena belum makan malam. Setelah duduk di meja makan, saya panggil pelayan dan segera memesan soto ayam –menu utama warung makan tersebut- dan segelas jeruk panas.
Tidak begitu lama menunggu, akhirnya pelayan datang membawa menu yang saya pesan. Wuihh… asap mengepul keluar dari soto yang masih panas. Karena perut sudah memanggil-manggil, akhirnya kusantap saja soto itu. Yahh.. memang sudah biasa makan makanan panas.
Setelah beberapa sendok soto masuk ke mulut, tiba-tiba datang anak laki-laki seusia SD sambil membawa setumpuk majalah. Dia menghampiri saya dan menawarkan majalah tersebut. Seperti biasa, saya tidak terlalu tertarik sama majalah-majalah yang biasa dijual di jalanan. Spontan saya angkat tangan kiri saya –nggak-. Akhirnya anak itu berlalu dari hadapan saya dan menghampiri pengunjung warung makan yang lain. Tak jauh berbeda, mereka juga bilang “tidak”. Bahkan ada yang tak sudi meliriknya.
Dari kejauhan saya perhatikan anak tersebut berjalan menjajakan majalah sambil terbatuk-batuk. Wah… kayaknya batuknya cukup serius. Dalam hati saya ingin memanggil anak tersebut untuk makan bersama, tapi, berat sekali mulut ini untuk bersuara. Mungkin karena kebiasaan saya kurang peduli sama orang yang meminta-minta di jalanan atau pun di kantor-kantor. Entah karena malu dilihat orang lah, karena masih terpikir mau beli susu untuk anak lah, mau bayar SPP, dan lain-lain. Tiga, empat, lima orang telah ia lalui. Anak itu pun keluar dari warung makan tanpa seorang pun yang mempedulikannya. Saya masih memperhatikannya dari dalam warung. Ia masih terus berjalan menjajakan majalah yang ia bawa sambil terbatuk-batuk.
Astaghfirullah… Akhirnya ia hilang dari pandangan saya. Saya sangat menyesal telah mengurungkan niat saya untuk memberikan sedekah kepada anak itu. Sangat jarang saya mendapatkan kesempatan untuk membantu orang yang memang benar-benar membutuhkan. Karena, memang saya berpikir kalau kita ingin bersedekah hendaknya berhati-hati jangan sampai sedekah kita tidak tepat sasaran.
Melalui tulisan ini saya hanya berharap bisa menjadi nasihat buat saya pribadi dan orang-orang yang mau peduli terhadap orang-orang di sekitarnya agar jangan sampai melewatkan kesempatan untuk berbuat baik. Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan yang lain untuk menabung guna masa depan kita di akhirat, amiiin…